Beberapa kilometer dari gerbang kota Zhurong, di tengah hutan, sebuah portal dimensi terbuka. Riak udara bergetar sebelum retakan itu menganga lebar.

Lynx melangkah keluar, disusul Leena yang menggendong Lala dalam pelukannya.

Leena menatap sekeliling sambil mengerutkan alis. Dia bisa merasakan energi spiritual yang tebal di alam. "Kita di mana sekarang? Apa kita sudah kembali ke dunia Kultivasi?"

"Kita ada di dekat kota Zhurong," jawab Lynx.

Leena menoleh cepat. "Lynx, sekarang bagaimana? Lala masih belum sadar."

Lynx menatap Lala dengan raut serius. "Aku melihat sesuatu yang berbeda dari auranya."

"Aurat?" Leena memelototinya. "Lynx, kamu jangan macam-macam ya. Kamu sudah janji enggak bakal ngintip wanita lain, apalagi pakai mata langit buat lihat tubuh mereka. Aku juga belum selesai urusan sama kamu karena berani-beraninya peluk perempuan lain di depan aku."

"Hah? Aurat? Peluk mesra?" Lynx bergumam bingung.

"Kapan aku peluk perempuan lain di depan dia?" Ia menggaruk kepala yang tidak gatal, mencoba mengingat.

"Leena, aku bilang aura. Bukan aurat. Lagipula, kapan aku peluk perempuan?"

Leena mengerjap. Wajahnya mengeras. "Sudahlah, aku enggak mau bahas itu sekarang. Bagaimana keadaan Lala?"

Lynx menghela napas dan kembali menatap Lala. "Kamu masih ingat waktu Karim menyuntikkan nano partikel ke tubuh Lala. Aku rasa itu penyebab dia belum sadar."

Leena mengepalkan tangan. Ia teringat jelas peringatan Kael dan Lala sendiri ketika Lynx pernah mencoba mengeluarkan partikel itu. Nano partikel itu sangat berbahaya. Kalau dipaksa keluar, bisa meledak dan  membunuh Lala seketika.

"Lynx, kamu yakin itu penyebabnya?" tanya Leena dengan cemas.

Lynx mengangguk pelan. Di Kutub, ia sempat menggunakan mata langitnya untuk menembus tubuh Lala dan melihat nano partikel di dalam tubuhnya. Partikel-partikel itu tampak menyala, dan warnanya kini berbeda dari sebelumnya.

Sesuai dengan perkiraannya, untuk mencegah pengaruh Kanaya hilang dan agar Kanaya tidak bisa memanfaatkan Lala dengan kemampuannya, Komandan Vex mengaktifkan kembali perangkat nano yang tertanam di tubuh Lala. Salah satu profesor yang meneliti kondisi Lala sempat menemukan jejak perangkat itu saat mereka memeriksa tubuhnya.

Lynx menoleh perlahan dan tersenyum samar. "Sebenarnya aku punya cara untuk mengeluarkan nano partikel itu. Tapi cara ini cuma akan kupakai kalau benar-benar terpaksa, karena metodenya... kelihatan kejam dan menyakitkan."

Leena mengerutkan alis. "Kejam dan menyakitkan? Maksudmu apa?"

"Intinya, aku bisa memaksa partikel itu keluar dengan cepat sebelum sempat meledak," jawab Lynx dengan nada tenang. "Kalaupun terjadi sesuatu, aku bisa memulihkan kondisi Lala."

Leena menatap wajah pucat Lala yang tak bergerak. Ia mengangguk tegas. "Baguslah, Lynx, kalau kamu bisa. Lakukan. Kondisi Lala... benar-benar mencemaskan."

Lynx berdiri tegak lalu membuat sebuah garis formasi di udara. Cahaya tipis berpendar membentuk garis-garis rumit di sekeliling mereka, menciptakan formasi pelindung tak kasat mata. Udara seketika terasa hening seolah seluruh suara dan getaran dunia terhalang oleh lapisan halus yang kini mengurung mereka.

Melihat Leena yang diam dengan wajah bingung, Lynx menjelaskan.

"Aku mendapat informasi penting dari Kanaya. Dia salah mengira kalau nano partikel di tubuh Lala sudah berhasil aku keluarkan karena dia kehilangan jejak Lala. Itu terjadi saat aku membuat formasi ini untuk memastikan Kanaya tidak bisa mendekati Lala."

Leena mengangguk. Ia teringat saat Lala tinggal di kamar sebelah mereka, dilindungi oleh formasi ini.

"Jadi maksudmu, formasi ini bisa menghalangi frekuensi sinyal mereka? Lalu, apa kamu ingin Lala selalu berada di dalam formasi ini?"

Lynx menggeleng.

"Aku pakai ini hanya untuk pencegahan, supaya mereka tidak melakukan sesuatu sebelum aku berhasil mengeluarkannya. Dan juga untuk melindungi kita di sini."

Setelah memastikan formasi aktif sepenuhnya, Lynx mengeluarkan sebuah benda dari cincin penyimpanan. Sebuah artefak berpendar lembut muncul di genggamannya, berbentuk pagoda mini berwarna giok tua dengan detail yang rumit dan halus.

Leena terkejut. Matanya membelalak saat mengenali benda itu.

"Bukankah itu Pagoda Qingling," bisiknya. Matanya menelusuri pola awan yang mengalir pelan di dinding artefak, seolah hidup dan bergerak dalam irama napas semesta.

Lynx mengangguk pelan.

"Di tempat ini kita bisa merawat Lala tanpa gangguan. Sangat cocok untuk apa yang akan kulakukan."

Lynx meletakkan Pagoda Qingling di atas tanah, lalu memejamkan mata dan berkonsentrasi. Dalam sekejap pusaran energi membungkus mereka bertiga. Angin berputar lembut menciptakan denting halus seperti lonceng kristal. Cahaya menyelimuti tubuh mereka dan sesaat kemudian Lynx, Leena, dan Lala telah menghilang masuk ke dalam Pagoda Qingling.

Begitu tubuh mereka menghilang, dunia di sekeliling berubah, dilahap cahaya kehijauan yang lembut. Saat mereka membuka mata, aroma samar giok tua memenuhi hidung, berpadu dengan hawa hangat dari pusaran Qi yang berputar pelan di udara. Lynx berdiri di dalam ruang bundar. Dinding-dindingnya terbuat dari batu kehijauan mengilap, dihiasi ukiran pola awan mengalir yang tampak berdenyut perlahan, seolah hidup.

Leena mengagumi suasana di dalamnya. Energi Qi spiritual terasa sangat tebal, mirip dengan dunia kecil tempat Isha berada sekarang.

"Jadi di sini Kael bersembunyi saat terluka. Pantas saja dia bisa bertahan. Energinya murni dan kuat," batin Leena.

Di dalam artefak dimensi, ketebalan energi Qi spiritual sering kali lebih besar daripada di dunia asli. Jarangnya aktivitas manusia menyebabkan energi spiritual menumpuk seiring waktu. Namun energi itu sendiri memiliki batasan. Semakin banyak orang yang masuk dan menyerapnya, semakin cepat pula habisnya. Proses terbentuknya energi spiritual dalam artefak jauh lebih lambat dibandingkan dunia luar. Karena itu, pemilik artefak biasanya menyimpan tempat seperti ini sebagai rahasia dan tidak membiarkan sembarang orang masuk, demi menjaga kemurniannya.

"Letakkan Lala di ranjang batu giok itu," ucap Lynx. Suaranya tenang tapi tak bisa ditolak.

Leena mengangguk. Ia melangkah mendekati ranjang berkilau di tengah ruangan. Permukaannya halus dan dingin, namun memancarkan energi yang menenangkan. Ia menurunkan tubuh Lala perlahan, membaringkannya dengan hati-hati. Wajah Lala masih pucat. Matanya tertutup rapat, seolah terlelap dalam tidur yang dalam dan berat.

Lynx ikut mendekat dan menekankan jarinya ke permukaan ranjang. Seketika, garis-garis formasi aktif membentuk lingkaran pelindung di sekeliling tubuh Lala. Suara dengungan halus terdengar ketika Qi dalam ruangan mulai tertarik ke pusat ranjang, mengalir perlahan ke arah tubuh Lala.

“Berkat ranjang giok ini, Kael bisa selamat dari tembakan Kanaya,” ujar Lynx sambil menatap cahaya lembut yang mulai bersinar dari bawah tubuh Lala.

"Apalagi yang kamu tunggu Lynx?" Tanya Leena saat melihat keraguan di wajah Lynx.

"Anu... Untuk mengobatinya, aku harus melepaskan jubahnya." Lynx menjawab dengan ragu, dia bersiap terkena amukan Leena.

Leena terdiam sejenak, "Pastikan kamu hanya mengobatinya dan tidak mengambil kesempatan." Katanya sambil melepaskan pakaian jubah yang menutupi tubuh Lala.

"Hah?" Lynx terkejut dengan respon Leena."Wanita memang susah di tebak." Batinnya. Dia mengira Leena akan mengamuk lagi.

"Lakukanlah!" Kata Lala setelah melepaskan seluruhnya.

Lynx segera bergerak cepat, dia tidak ingin terlihat mesum Dimata Leena, walaupun hatinya berdebar kencang melihat kemulusan tubuh wanita di depannya tanpa satupun kain yang menghalangi.

Ia mengangkat tangannya dan mengaktifkan cincin penyimpanan. Beberapa jarum halus keluar dan melayang pelan di udara. Kilau samar tampak dari setiap jarum, masing-masing dipenuhi esensi spiritual tingkat tinggi. Lynx mengarahkan jarinya. Jarum-jarum itu segera melesat ke titik-titik akupuntur di tubuh Lala dengan presisi sempurna.

Setiap tusukan disusul aliran energi sakti yang meresap ke dalam jalur meridian. Qi dalam ruangan ikut berputar mengikuti arus itu, membentuk pusaran halus yang menekan partikel asing dari dalam tubuh Lala.

Leena berdiri di sisi ranjang. Pandangannya tak lepas dari tubuh Lala. Napasnya tertahan.

Dengan jarum yang menusuk dititik tertentu, Lynx ingin mengarahkan nano partikel tersebut ke sebuah titik agar berkumpul agar dapat di keluarkan bersamaan.

Dengan satu gerakan tajam, Lynx menekankan telapak tangannya ke dada Lala. Energi sakti mengalir deras, memaksa partikel nano keluar. Titik-titik hitam kecil mulai muncul di bawah kulit Lala, lalu terdorong keluar satu per satu.

Begitu partikel-partikel itu terlepas dari tubuh, Lynx segera mengarahkan dan menampungnya ke dalam gelas kaca yang telah disiapkan di atas formasi penyegel. Partikel-partikel itu masuk satu demi satu dan terkumpul dalam jumlah yang cukup banyak.

Lynx menyalurkan dorongan terakhir. Tubuh Lala sedikit terangkat, lalu jatuh kembali ke atas ranjang. Semua partikel telah keluar. Gelas di sisi ranjang kini berisi titik-titik hitam berkilau yang tak lagi mengancam.

